Jumat, 02 Mei 2008

Vestival Music Daerah Lombok


Posting by DJ.Dika

Suatu prestasi cukup membanggakan ditorehkan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat yang didukung jajaran pelaku pariwisata dan bisnis lainnya, dengan menggelar kembali event promosi dalam daerah yakni Festival Senggigi ke VI. Acungan jempol kepada jajaran Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya (Parsenibud) Lombok Barat patut diberikan karena konsisten menggelar Festival Senggigi tiap tahunnya. Bahkan, Dinas Parsenibud Lobar bersama mitra kerjanya (jajaran pelaku pariwisata, seni dan budaya), telah menetapkan Festival Senggigi tiap tahunnya pada tanggal 15-21 Juli. Apa saja acara yang disuguhkan pada Festival Senggigi kali ini?
HINGGA memasuki tahun keenam, masalah dana masih mengganjal pihak panitia penyelenggara. Namun, dengan semangat kebersamaan pemda dan unsur pelaku pariwisata, seni dan budaya, serta dukungan masyarakat, panitia mampu menyiasatinya agar event promosi daerah ini tetap terselenggara, bahkan makin diperindah acara-acaranya untuk menarik wisatawan.Keberanian panitia inilah yang patut dihargai, apalagi ini menyangkut pencitraan daerah NTB ke luar dan berdampak luas nantinya terhadap kemajuan pariwisata maupun sektor-sektor lainnya. Ini sebuah perjuangan yang mesti didukung semua pihak, tanpa melihat siapa atau institusi mana yang menyelenggarakan.Wajar kiranya Kepala Dinas Parsenibud Lobar, Drs. Tjok Suthendra Rai, menginginkan adanya persepsi yang sama bahwa Festival Senggigi bukan hanya milik Lombok Barat, tetapi milik masyarakat NTB. Karena semua komponen masyarakat di daerah ini tentu sepakat bahwa kawasan wisata Senggigi sebagai kawasan primadona yang mampu memberikan sebagian magnitnya untuk kawasan-kawasan wisata lainnya yang ada di NTB.Untuk itulah, Tjok bersama jajaran pelaku pariwisata, berharap Festival Senggigi perlu mendapat dukungan yang kuat dari Pemerintah Propinsi NTB, sehingga benar-benar menjadi event unggulan yang memiliki magnit yang kuat untuk menyedot wisatawan domestik maupun wisatawan dari mancanegara. ''Kami mulai merasakan magnit itu ketika para tourist makin melirik Lombok, mengisi kamar-kamar hotel dengan jumlah yang cukup menggembirakan. Ini sebuah harapan besar yang mesti didukung semua pihak dengan semangat kebersamaan,'' tutur Rosa Stuart, pengelola Vila Sayang Boutique Hotel & Spa yang juga pengurus Lombok Sumbawa Promo kepada Suara NTB, Jumat (14/7) kemarin.Festival Senggigi kali ini lebih menekankan pelestarian dan pengembangan seni-budaya untuk menggenjot perkembangan pariwisata Lombok (NTB). Ini terlihat dari tema Senggigi Festival Lombok 2006 yakni ''Lombok the Island-Colours of a Culture'', yang menggambarkan keindahan Lombok melalui warna-warni seni dan budaya. Ini semua bisa dilihat pada pagelaran maupun atraksi seni dan budaya yang ditampilkan selama festival berlangsung. Semua ini dikemas dan dikolaborasi dengan musik dan tari.Ini disuguhkan tentu untuk memikat para tamu, termasuk utusan dari beberapa daerah dan puluhan travel agent dari luar daerah, seperti Jakarta, Bandung dan Surabaya. Kesempatan Festival Senggigi dimanfaatkan pula untuk menjalin kerja sama antara pelaku pariwisata dari Lombok-NTB dengan travel-travel agent dari tiga kota besar tersebut.
Nuansa ReligiusPihak panitia nampaknya menyuguhkan pergelaran maupun atrakasi yang diharapkan menjadi kenangan tersendiri bagi tamu agar selalu ingat dan ingin selalu datang ke Lombok. Bahkan pergelarannya bernuansa religius dan kental dengan pendekatan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebut saja pada pembukaan Festival Senggigi, ditampilkan kolaborasi musik dan tari dengan judul ''Betetulak'' (Besoq Gumi) garapan H. L. Emie Suhaemie, yang musiknya ditata Hamid Hamzah dan gerak ditata Sukarno. Menurut Suhaemie, tari ini adalah suatu tari yang diilhami oleh kondisi masa-masa sekarang, yang mana sering terjadi bencana. Untuk menghindari dari segala bentuk bencana itu, biasanya masyarakat Lombok menyelenggarakan suatu upacara untuk menolak bala yang biasa disebut ''Betetulak'' (Besoq Gumi). Betetulak adalah suatu proses upacara untuk menolak bala. Biasanya pada prosesi ini yang dilakukan adalah pencucian benda-benda pusaka, pembacaan berzanji dan ada juga dengan memandikan sepasang anak manusia untuk membersihkan dirinya dari segala penyakit baik jasmani maupun rohani. Bagaimana cerita selengkapnya dan bentuk kolaborasinya, masyarakat bisa melihat langsung ke lokasi acara di Senggigi Square. Demikian pula dengan puluhan pergelaran maupun atraksi serta kolaborasi lainnya, termasuk tampilan masing-masig peserta dari kecematan yang ada di Lobar, seperti gendang beleq, praha putri mandalika, melarung dari Sumbawa Barat, cupak gurantang, parade sunat, sahadat tutut, proses nyongkolan, dan proses perang topat. Selama festival, para tamu dan masyarakat umum bisa menyaksikan berbagai acara setiap harinya, seperti tampilan NTB di TMII Jakarta, pergelaran seni dari Kota Mataram, kompetisi group band, pameran industri, kompetisi tari/musik tradisional, dan presean.

Tidak ada komentar: