Selasa, 29 April 2008

BAND INDIE LOMBOK

VIRTUAL BAND


JANGAN CARI
di toko kaset di Jakarta [dan Pulau Jawa]. Dijamin tidak bakal ketemu! Jangan cari bajakannya juga, dijamin, tidak ketemu juga. Lah? Betul, album ini beredar secara terbatas hanya di Pulau Lombok dan sekitarnya, yah Nusa Tenggara Baratlah. Maklum, inilah bagian dari pergerakan indie di pulau yang jauh dari Pulau Jawa itu. Tapi keberanian band ini patut diacungi jempol. Lepas dari persoalan kualitas. Album ini berjudul MASE BIRU. Band-nya bernama Virtual Kanaq sasak. Belum pernah mendengar sebelumnya? Tidak usah merasa malu, karena di daerahnya saja, album ini terjual sekitar 5000-an keping. Angka yang bagus untuk band indie lokal. Keberanian lain yang dimiliki band yang beranggota Chandra [gitar], Wawan [bass], E'edd [vokal], dan Danny[drum], adalah mereka total menggunakan bahasa Sasak. Bahasa lokal Lombok. 10 lagu yang masuk track di album ini, 100% berbahasa Sasak. Meski mungkin kamu [dan saya juga] tidak tahu artinya, tapi menyimak musikalitasnya, saya bisa katakan biasa saja. Mengusung musik pop yang benar-benar pop, emap anak muda ini tampaknya memilih untuk lebih menyentuh sisi lokalnya saja. Single yang jadi jagoan adalah Mase Biru. Khusus untuk lagu ini, penulis harus bilang lagu ini lumayan menonjolkan sisi Sasak dari band pop. Ada tabuhan musik lokal yang cukup kental. Sayangnya, lagu yang betempo lambat ini cuma punya power disitu. Selebihnya, termasuk suara vokalisnya, adem ayem saja. Lagu lain yang terdengar mendingan adalah Sepi Alam Dese yang kuat dengan petikan gitar akustik. Lagu yang berbicara soal keindahan alam ini, cukup jeli dimainkan dengan petikan gitar yang sederhana. Kelemahan mendasar band ini adalah aransemen yang kelewat sederhana. Apakah karena pasar yang disasar hanya seputaran Lombok? Seharusnya mereka bisa lebih bagus lagi. Secara kualitas, album limited edition ini tak bisa dibilang bagus. Tapi untuk dibilang buruk, rasanya juga tidak tepat. Album ini berusaha tampil untuk kemunitas lokal. Pilihan bahasa Sasak, sebenarnya tak beda dengan album berbahasa Jawa, Sunda atau Batak misalnya. Bedanya, bahasa Sasak secara nasional, tak terlalu populer saja. Menggugat album lokal ini dari sisi kualitas, juga terlalu keras. Mereka, Virtual Band ini, hanya ingin menjadi bagian dari proses kesenian dan budaya lokal di kampungnya. Tampaknya tak lebih dari itu...[joko/foto: sampul kaset DIPA PRODUCTION]

Tidak ada komentar: