Posting by DJ Dika
Penggabungan teknologi komputer dan komunikasi berpengaruh sekali terhadap bentuk organisasi sistem komputer. Dewasa ini, konsep "pusat komputer", dalam sebuah ruangan yang berisi sebuah komputer besar, tempat dimana semua pengguna mengolah pekerjaannya, merupakan konsep yang sudah ketinggalan jaman. Model komputer tunggal yang melayani seluruh tugas-tugas komputasi suatu organisasi telah diganti oleh sekumpulan komputer berjumlah banyak yang terpisah-pisah tetapi saling berhubungan dalam melaksanakan tugasnya. Sistem seperti ini disebut sebagai Jaringan Komputer (Computer Network) .
Apa jaringan komputer itu dan apa manfaatnya?
Jaringan Komputer dapat diartikan sebagai suatu himpunan interkoneksi sejumlah komputer otonom. Dua buah komputer dikatakan membentuk suatu network bila keduanya dapat saling bertukar informasi. Pembatasan istilah otonom disini adalah untuk membedakan dengan sistem master/slave. Bila sebuah komputer dapat membuat komputer lainnya aktif atau tidak aktif dan mengontrolnya, maka komputer komputer tersebut tidak otonom. Sebuah sistem dengan unit pengendali (control unit) dan sejumlah komputer lain yang merupakan slave bukanlah suatu jaringan; komputer besar dengan remote printer dan terminalpun bukanlah suatu jaringan.
Manfaat Jaringan
Secara umum, jaringan mempunyai beberapa manfaat yang lebih dibandingkan dengan komputer yang berdiri sendiri dan dunia usaha telah pula mengakui bahwa akses ke teknologi informasi modern selalu memiliki keunggulan kompetitif dibandingkan pesaing yang terbatas dalam bidang teknologi.
Jaringan memungkinkan manajemen sumber daya lebih efisien. Misalnya, banyak pengguna dapat saling berbagi printer tunggal dengan kualitas tinggi, dibandingkan memakai printer kualitas rendah di masing-masing meja kerja. Selain itu, lisensi perangkat lunak jaringan dapat lebih murah dibandingkan lisensi stand-alone terpisah untuk jumlah pengguna sama.
Jaringan membantu mempertahankan informasi agar tetap andal dan up-to-date. Sistem penyimpanan data terpusat yang dikelola dengan baik memungkinkan banyak pengguna mengaskses data dari berbagai lokasi yang berbeda, dan membatasi akses ke data sewaktu sedang diproses.
Jaringan membantu mempercepat proses berbagi data (data sharing). Transfer data pada jaringan selalu lebih cepat dibandingkan sarana berbagi data lainnya yang bukan jaringan.
Jaringan memungkinkan kelompok-kerja berkomunikasi dengan lebih efisien. Surat dan penyampaian pesan elektronik merupakan substansi sebagian besar sistem jaringan, disamping sistem penjadwalan, pemantauan proyek, konferensi online dan groupware, dimana semuanya membantu team bekerja lebih produktif.
Jaringan membantu usaha dalam melayani klien mereka secara lebih efektif. Akses jarak-jauh ke data terpusat memungkinkan karyawan dapat melayani klien di lapangan dan klien dapat langsung berkomunikasi dengan pemasok.
Ada tiga tipe jaringan yang umum yang digunakan antara lain :
Jaringan WorkGroup,
Janringan Lan, dan
Jaringan Wan
Jaringan Workgroup
Jaringan ini terdiri dari beberapa unit komputer yang dihubungkan dengan menggunakan Network Interface Card atau yang biasa disebut dengan Local Area Network Card, serta dengan menggunakan kabel BNC maupun UTP. Semua unit komputer yang terhubung dapat mengakses data dari unit komputer lainnya dan juga dapat melakukan print document pada printer yang terhubung dengan unit komputer lainnya.
Keuntungan Jaringan Workgroup.
Pertukaran file dapat dilakukan dengan mudah (File Sharing).
Pemakaian printer dapat dilakukan oleh semua unit komputer (Printer Sharing).
Akses data dari/ke unit komputer lain dapat di batasi dengan tingkat sekuritas pada password yang diberikan.
Komunikasi antar karyawan dapat dilakukan dengan menggunakan E-Mail & Chat.
Bila salah satu unit komputer terhubung dengan modem, maka semua atau sebagian unit komputer pada jaringan ini dapat mengakses ke jaringan Internet atau mengirimkan fax melalui 1 modem.
Jaringan LAN
LAN (Local Area Network) adalah suatu kumpulan komputer, dimana terdapat beberapa unit komputer (client) dan 1 unit komputer untuk bank data (server). Antara masing-masing client maupun antara client dan server dapat saling bertukar file maupun saling menggunakan printer yang terhubung pada unit-unit komputer yang terhubung pada jaringan LAN.
Berdasarkan kabel yang digunakan ,ada dua cara membuat jaringan LAN, yaitu dengan kabel BNC dan kabel UTP.
Keuntungan Jaringan LAN.
Pertukaran file dapat dilakukan dengan mudah (File Sharing).
Pemakaian printer dapat dilakukan oleh semua client (Printer Sharing).
File-file data dapat disimpan pada server, sehingga data dapat diakses dari semua client menurut otorisasi sekuritas dari semua karyawan, yang dapat dibuat berdasarkan struktur organisasi perusahaan sehingga keamanan data terjamin.
File data yang keluar/masuk dari/ke server dapat di kontrol.
Proses backup data menjadi lebih mudah dan cepat.
Resiko kehilangan data oleh virus komputer menjadi sangat kecil sekali.
Komunikasi antar karyawan dapat dilakukan dengan menggunakan E-Mail & Chat.
Bila salah satu client/server terhubung dengan modem, maka semua atau sebagian komputer pada jaringan LAN dapat mengakses ke jaringan Internet atau mengirimkan fax melalui 1 modem.
Jaringan WAN
WAN (Wide Area Network) adalah kumpulan dari LAN dan/atau Workgroup yang dihubungkan dengan menggunakan alat komunikasi modem dan jaringan Internet, dari/ke kantor pusat dan kantor cabang, maupun antar kantor cabang. Dengan sistem jaringan ini, pertukaran data antar kantor dapat dilakukan dengan cepat serta dengan biaya yang relatif murah. Sistem jaringan ini dapat menggunakan jaringan Internet yang sudah ada, untuk menghubungkan antara kantor pusat dan kantor cabang atau dengan PC Stand Alone/Notebook yang berada di lain kota ataupun negara.
Keuntungan Jaringan WAN.
Server kantor pusat dapat berfungsi sebagai bank data dari kantor cabang.
Komunikasi antar kantor dapat menggunakan E-Mail & Chat.
Dokumen/File yang biasanya dikirimkan melalui fax ataupun paket pos, dapat dikirim melalui E-mail dan Transfer file dari/ke kantor pusat dan kantor cabang dengan biaya yang relatif murah dan dalam jangka waktu yang sangat cepat.
Pooling Data dan Updating Data antar kantor dapat dilakukan setiap hari pada waktu yang ditentukan.
Selasa, 29 April 2008
BAND INDIE LOMBOK
VIRTUAL BAND |
JANGAN CARIdi toko kaset di Jakarta [dan Pulau Jawa]. Dijamin tidak bakal ketemu! Jangan cari bajakannya juga, dijamin, tidak ketemu juga. Lah? Betul, album ini beredar secara terbatas hanya di Pulau Lombok dan sekitarnya, yah Nusa Tenggara Baratlah. Maklum, inilah bagian dari pergerakan indie di pulau yang jauh dari Pulau Jawa itu. Tapi keberanian band ini patut diacungi jempol. Lepas dari persoalan kualitas. Album ini berjudul MASE BIRU. Band-nya bernama Virtual Kanaq sasak. Belum pernah mendengar sebelumnya? Tidak usah merasa malu, karena di daerahnya saja, album ini terjual sekitar 5000-an keping. Angka yang bagus untuk band indie lokal. Keberanian lain yang dimiliki band yang beranggota Chandra [gitar], Wawan [bass], E'edd [vokal], dan Danny[drum], adalah mereka total menggunakan bahasa Sasak. Bahasa lokal Lombok. 10 lagu yang masuk track di album ini, 100% berbahasa Sasak. Meski mungkin kamu [dan saya juga] tidak tahu artinya, tapi menyimak musikalitasnya, saya bisa katakan biasa saja. Mengusung musik pop yang benar-benar pop, emap anak muda ini tampaknya memilih untuk lebih menyentuh sisi lokalnya saja. Single yang jadi jagoan adalah Mase Biru. Khusus untuk lagu ini, penulis harus bilang lagu ini lumayan menonjolkan sisi Sasak dari band pop. Ada tabuhan musik lokal yang cukup kental. Sayangnya, lagu yang betempo lambat ini cuma punya power disitu. Selebihnya, termasuk suara vokalisnya, adem ayem saja. Lagu lain yang terdengar mendingan adalah Sepi Alam Dese yang kuat dengan petikan gitar akustik. Lagu yang berbicara soal keindahan alam ini, cukup jeli dimainkan dengan petikan gitar yang sederhana. Kelemahan mendasar band ini adalah aransemen yang kelewat sederhana. Apakah karena pasar yang disasar hanya seputaran Lombok? Seharusnya mereka bisa lebih bagus lagi. Secara kualitas, album limited edition ini tak bisa dibilang bagus. Tapi untuk dibilang buruk, rasanya juga tidak tepat. Album ini berusaha tampil untuk kemunitas lokal. Pilihan bahasa Sasak, sebenarnya tak beda dengan album berbahasa Jawa, Sunda atau Batak misalnya. Bedanya, bahasa Sasak secara nasional, tak terlalu populer saja. Menggugat album lokal ini dari sisi kualitas, juga terlalu keras. Mereka, Virtual Band ini, hanya ingin menjadi bagian dari proses kesenian dan budaya lokal di kampungnya. Tampaknya tak lebih dari itu...[joko/foto: sampul kaset DIPA PRODUCTION] |
Senin, 28 April 2008
"Ayat-Ayat Cinta"
Posting by DJ Dika
Pengantar RedaksiAssalaamu’alaikum wr. wb.
Film “Ayat-Ayat Cinta” jadi fenomena baru euy di jagat industri film nasional. Gimana nggak, film tersebut ditonton sekitar 3 juta orang hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Kalo diukur dari prestasi minat penonton, mungkin saja itu angka statistik yang bisa dibanggakan. Meski demikian, pro-kontra terhadap film tersebut juga marak. Terutama dalam diskusi-diskusi di internet.
Ada yang protes karena isinya beda ama di novel, ada pula yang ngamuk-ngamuk di blog pribadinya gara-gara ada bagian yang tampaknya dihilangkan agar tak memicu polemik agama, ada juga yang melihatnya dari sisi fikih. Meski begitu, ada juga bagian film itu yang benar. Misalnya menolak pacaran, menyampaikan syariat poligami, menyampaikan kasih-sayang sesama manusia, membudayakan sabar dan ikhlas. Bagus juga sih. Meski demikian, kita tetap harus jeli, karena ajaran Islam tentu nggak sesederhana itu. Jika tujuannya menyampaikan dakwah dan mencerdaskan kaum muslimin, seharusnya bisa berani menyampaikan Islam apa adanya semuanya tanpa ditutup-tutupi demi menjaga toleransi. Tul nggak?
Boys and gals, sekadar ikut meramaikan diskusi yang sudah marak sebelumnya di internet, gaulislam sengaja angkat tema ini untuk membahas dari sisi lain yang jarang dibahas oleh mereka yang pro maupun kontra (ciee pede banget!). Semoga semangat cinta Islam bisa dilanjutkan dengan belajar Islam, bukan sebatas? nonton film islami aja. Setuju kan? ?So, baca aja edisi 023 ini.
Salam,
Redaksi
=====
edisi 023/tahun I (23 Rabiul Awal 1429 H/31 Maret 2008)Kayaknya bagi kamu yang stay tune mantengin berita seputar fenomena film Ayat-Ayat Cinta bakalan ngeh dengan kehebohan film tersebut. Maklum, banyak media nasional seperti kompakan menurunkan berita seputar kesuksesan film tersebut bagi industri film nasional. Bahkan, Wapres Jusuf Kalla aja sampe bela-belain nonton film Ayat-Ayat Cinta di bioskop membaur dengan penonton umum lainnya. Waduh, jarang-jarang nih ada film nasional yang sampe ditonton sama petinggi negara di bioskop.
Sekadar informasi aja, setelah dirilis resmi pada 28 Februari 2008 lalu, film garapan rumah produksi MD Pictures ini berhasil menorehkan sejarah sebagai film paling laris sepanjang masa. Baru empat hari diputar, Ayat-Ayat Cinta sudah membukukan jumlah 700.000 penonton. Jumlah penonton terus bertambah hingga tembus angka 2,9 juta hanya tiga minggu setelah beredar. Kini dapat dipastikan jumlah penonton sudah lebih dari tiga juta orang (SINDO, 23 Maret 2008)
Oya, angka itu hanya dihitung dari penonton yang nonton di bioskop, belum lagi yang nonton via VCD/DVD bajakan yang beredar luas. Kayaknya bisa lebih banyak lagi tuh. Wis, pokoke pol banget dah. Film yang diangkat dari novel karya Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman el-Shirazy ini memang diprediksi bakalan sukses. Maklum, bukunya aja udah tercetak sekitar 400.000 eksemplar. Belum lagi kalo dihitung dengan buku bajakannya bisa-bisa lebih dari itu. Maklum, para pembajak tahu betul buku (termasuk film) apa saja yang lagi laris di pasaran. Hehehe…
Meski demikian, sukses film Ayat-Ayat Cinta ini rupanya diiringi juga dengan pro-kontra. Banyak yang mendukung, tapi nggak sedikit pula yang protes keras. Mulai dari isi cerita di film beda jauh dengan isi di novelnya, bahkan ada perbedaan yang sangat fatal seperti tidak ditampilkannya di film padahal itu termasuk bagian penting dari isi novel.
Sebagian blogger yang memprotes film tersebut bahkan mempertanyakan masalah fikih (syariat) dalam film itu. Misalnya, boleh nggak sih adegan Fedi Nuril ama Rianti Cartwright di film itu? Gimana pun juga kan mereka bukan mahram. Belum lagi ada kesalahan penyebutan definisi ahlu dzimah yang keliru dan tidak pada tempatnya. Saya nggak tahu apa kutipan itu ada di bukunya juga apa nggak, jadi nggak bisa bedain. Tapi yang jelas dialog di film tersebut yang menyampaikan suatu istilah dengan keliru harus segera diluruskan.
Oya, film tersebut emang nggak semuanya memuat kesalahan, ada juga yang benarnya kok. Seperti syariat poligami, aturan ta’aruf, tentang sabar dan ikhlas, tapi semua itu jadi hambar gara-gara ada beberapa bagian yang terpenting malah dihilangan dalam film.
Memang sih, Hanung Bramantyo sebagai sutradara ngasih komen dengan maraknya protes terhadap karyanya tersebut, khususnya yang membandingkan dengan isi novelnya, “Harus dipisahkan antara novel dengan film, keduanya merupakan medium yang berbeda.” (SINDO, 23 Maret 2008)
Oke deh, terlepas dari pro dan kontra terhadap film Ayat-Ayat Cinta dari perbedaan antara isi cerita di novel dan film, tapi Ayat-Ayat Cinta juga perlu dikritisi. Terutama dari sisi penyampaian pesan Islam dan media penyampaian pesannya. Sebab, orang udah kadung ikutan heboh dengan tema “cinta” yang diusung dan “konflik emosi” yang bertaburan di film tersebut, jadi kurang kritis. So, tanpa maksud bikin suasana tambah ?runyam’, akhirnya gaulislam ikut ngebahas dari sisi lain agar menjadi perhatian kaum muslimin untuk bisa menempatkan persoalan dengan benar.
Tak berani suarakan Islam
Boys and gals, ada satu adegan yang dipotong di film tersebut yang beda jauh alias bertolak-belakang dengan cerita di novelnya. Demi mengedepankan sisi toleransi, Hanung memang mencoba menghilangkan beberapa adegan yang sekiranya memicu polemik. “Adegan seperti wartawan Amerika bernama Alice dan Maria seorang Kristen Koptik yang akhirnya masuk Islam, itu saya hilangkan, karena saya tidak ingin film ini men-judge orang untuk masuk Islam,” katanya (SINDO, 23 Maret 2008)
Lha. Piye iki? Untuk kasus ini, selain mengecewakan bin mengkhianati para pembaca novel tersebut, juga film ini menjadi kendaraan untuk membohongi publik. Bukan hanya karena beda dengan cerita di novelnya, tapi makna toleransi pun udah salah kaprah. Seharusnya kita berpikir, bahwa saat ini orang nggak mudah (meski ada juga yang gampang terpengaruh) untuk percaya begitu saja dengan isi film, jadi kekhawatiran akan menimbulkan polemik jutsru berlebihan. Sebab, sejatinya polemik itu bisa saja terjadi. Bandingkan dengan buku dan film The Da Vinci Code yang konon kabarnya bisa mengguncang iman kaum kristiani karena isinya yang bisa menggoyahkan keyakinan akidah mereka. Tapi, show must be go on. Pembaca dan penonton yang akan menilainya langsung. Bisa pro bisa juga kontra. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?
Tapi kalo belum apa-apa sudah tidak berani menyuarakan kebenaran Islam, apa yang mau dibanggakan? Prestasi penonton yang mencapai 3 juta orang lebih tak berarti apa-apa-kecuali keuntungan secara materi dan ketenaran-jika isinya meracuni keyakinan dan akidah kaum muslimin itu sendiri. Itulah kenapa kita sangat menyayangkan isi film ini. Saya juga nggak tahu kenapa penulis novelnya mau saja ceritanya diubah ketika difilmkan. Apa pun alasannya, menurut saya, dalam pandangan ajaran Islam, hal itu adalah sebuah kelalaian yang bisa berakibat fatal bagi pemahaman kaum muslimin. Allahu’alam.
Bandingkan dengan film-film Hollywood yang seringkali menyisipkan dialog yang menyudutkan Islam seperti di film Die Hard 4.0, Shooter, Eraser dan lainnya yang secara terang-terangan berani menyebut kaum muslimin sebagai teroris. Pertanyaannya, mengapa kita nggak berani menyampaikan kebenaran itu? Mengapa adegan penting seperti masuk Islamnya dua tokoh dalam film tersebut dihilangkan dengan alasan toleransi?
Sekadar mengingatkan bahwa toleransi tidaklah berarti mengakui kebenaran agama mereka, tapi mengakui keberadaan agama mereka dalam realitas bermasyarakat. Trus, toleransi juga bukan berarti kompromi atau bersifat sinkretisme dalam keyakinan dan ibadah. Oya, sinkretisme adalah menyamakan bahwa semua agama tuh benar. Padahal, kita tak boleh sama sekali ngikuti agama dan ibadah mereka dengan alasan apapun (Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Kuliah Akhlaq, hlm 210)
Lagian sikap kita udah jelas kok seperti yang udah diajarin Allah Swt. dalam firmanNya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS al-Kaafiruun [109]: 6)
So, menurut saya, justru dengan menghilangkan adegan penting masuk Islamnya Maria dan Alice di film itu sudah tidak menghargai karya penulis novelnya, juga seluruh kaum muslimin karena hak mereka untuk mendapatkan informasi yang benar dan pemahaman yang shahih ?dirampok’ oleh pembuat film tersebut.
Belum lagi adegan di sebuah kendaraan umum yang menggambarkan dialog antara Fahri dengan seorang penumpang yang ngotot tidak membolehkan orang kafir Amerika untuk diberikan tempat duduk. Fahri digambarkan menyampaikan pernyataan tentang ahlu dzimah tetapi keliru dan bukan pada tempatnya. Pada dialog itu disebutkan:”Orang asing yang masuk ke dalam sebuah negara secara sah berarti ia seorang ahlu dzimah yang harus dilindungi keselamatan dan kehormatannya.”
Padahal yang dimaksud ahlu dzimah (kafir dzimmy) adalah orang non-Muslim yang menjadi warga negara, yang hidup bersama mereka (kaum Muslim) di Negara Islam (Daulah Khilafah, pen.), membayar jizyah dan taat kepada hukum-hukum Islam, kecuali yang menyangkut praktik hukum yang diakui untuk mereka, seperti hukum-hukum tentang akidah, ibadah, nikah, talak, makanan (minum) dan pakaian. (Imam asy-Syafi’i, al-Umm, juz IV, hlm. 213-dikutip pada buku Jihad dan Perang, jilid I, karya Dr. Muhammad Khair Haekal, hlm. 218)
Sabda Rasulullah saw.:“Barangsiapa yang membunuh seorang (kafir) yang sedang terikat perjanjian (mu’ahadah) yang telah mendapat perlindungan dari Allah dan RasulNya (dzimmiy), maka ia telah melanggar perlindungan Allah-yakni mengkhianati perjanjian-dan dia tidak akan mencium baunya surga, meskipun bau surga itu tercium dari jarak sejauh perjalanan yang lamanya 40 musim gugur.”
Selain itu Ali bin Abi Thalib ra pernah mengatakan, “Sesungguhnya, hanya dengan membayar jizyah, maka harta mereka berstatus sama seperti harta kita dan darah mereka sama seperti darah kita.” (Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 211)
Persoalannya, Mesir–yang menjadi setting tempat dalam novel dan film itu–bukan negara Islam. Mesir tuh negara sekular, sama dengan Indonesia dan negeri Islam lainnya karena udah menerapkan sistem Kapitalisme-Demokrasi dari Barat. Lagian, sampai saat ini, sejak keruntuhan Khilafah Islamiyah pada 3 Maret 1924 belum berdiri lagi Khilafah Islamiyah (Negara Islam), jadi penyebutan istilah ahlu dzimmah di film tersebut jelas keliru banget dan nggak pada tempatnya.
Oya, ini bukan kritikan, tapi masukan tanda peduli dan cinta kepada kaum muslimin. Jangan sampe isi film ini kemudian mempengaruhi dengan mudah–meski saya akui tak mudah orang untuk terpengaruh begitu saja. Apalagi jika isinya ternyata mengaburkan pemahaman Islam itu sendiri. Jangan sampe kemudian film ini dijadikan senjata untuk melemahkan pemahaman kaum muslimin secara perlahan-lahan. Masih mending dituduh teroris sehingga masih bisa berontak dan menolak. Lha, kalo ?dibodohi’, sulit orang bisa berontak kecuali mereka yang sadar dan mengedepankan pemahaman, bukan perasaan belaka.
Saatnya kampanyekan Islam apa adanya
Jangan menutupi kebenaran Islam, apalagi sampe menyimpangkan ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah demi mendapat respon positif dan atas nama dakwah yang katanya secara damai itu. Padahal sejatinya bukan tak mungkin malah menikam Islam itu sendiri karena penyampaiannya yang keliru.
So, meski mungkin tulisan ini tak akan banyak terbaca karena disapu gelombang informasi ?sepihak’ tentang fenomena film ini, tapi paling nggak kamu yang baca harus mulai berlatih menjadi cerdas dengan menjadikan Islam sebagai pandangan dan pedoman hidup. Tentu, agar tetap mampu menyampaikan Islam apa adanya. Jangan beralasan atas nama dakwah, tapi tindakannya malah menghilangkan bagian yang semestinya disampaikan sebagai dakwah seperti dalam film Ayat-Ayat Cinta ini. Apalagi kalo harus ngomongin aktivitas pemainnya, gimanapun Fedi Nuril ama Rianti Cartwright bukan mahram dalam kehidupan nyata, kok bisa mesraan gitu di film? Apa karena atas nama dakwah? Halah, dakwah kok jadi hiburan dan tambang uang para kapitalis. Musibah…
Pengantar RedaksiAssalaamu’alaikum wr. wb.
Film “Ayat-Ayat Cinta” jadi fenomena baru euy di jagat industri film nasional. Gimana nggak, film tersebut ditonton sekitar 3 juta orang hanya dalam waktu kurang dari sebulan. Kalo diukur dari prestasi minat penonton, mungkin saja itu angka statistik yang bisa dibanggakan. Meski demikian, pro-kontra terhadap film tersebut juga marak. Terutama dalam diskusi-diskusi di internet.
Ada yang protes karena isinya beda ama di novel, ada pula yang ngamuk-ngamuk di blog pribadinya gara-gara ada bagian yang tampaknya dihilangkan agar tak memicu polemik agama, ada juga yang melihatnya dari sisi fikih. Meski begitu, ada juga bagian film itu yang benar. Misalnya menolak pacaran, menyampaikan syariat poligami, menyampaikan kasih-sayang sesama manusia, membudayakan sabar dan ikhlas. Bagus juga sih. Meski demikian, kita tetap harus jeli, karena ajaran Islam tentu nggak sesederhana itu. Jika tujuannya menyampaikan dakwah dan mencerdaskan kaum muslimin, seharusnya bisa berani menyampaikan Islam apa adanya semuanya tanpa ditutup-tutupi demi menjaga toleransi. Tul nggak?
Boys and gals, sekadar ikut meramaikan diskusi yang sudah marak sebelumnya di internet, gaulislam sengaja angkat tema ini untuk membahas dari sisi lain yang jarang dibahas oleh mereka yang pro maupun kontra (ciee pede banget!). Semoga semangat cinta Islam bisa dilanjutkan dengan belajar Islam, bukan sebatas? nonton film islami aja. Setuju kan? ?So, baca aja edisi 023 ini.
Salam,
Redaksi
=====
edisi 023/tahun I (23 Rabiul Awal 1429 H/31 Maret 2008)Kayaknya bagi kamu yang stay tune mantengin berita seputar fenomena film Ayat-Ayat Cinta bakalan ngeh dengan kehebohan film tersebut. Maklum, banyak media nasional seperti kompakan menurunkan berita seputar kesuksesan film tersebut bagi industri film nasional. Bahkan, Wapres Jusuf Kalla aja sampe bela-belain nonton film Ayat-Ayat Cinta di bioskop membaur dengan penonton umum lainnya. Waduh, jarang-jarang nih ada film nasional yang sampe ditonton sama petinggi negara di bioskop.
Sekadar informasi aja, setelah dirilis resmi pada 28 Februari 2008 lalu, film garapan rumah produksi MD Pictures ini berhasil menorehkan sejarah sebagai film paling laris sepanjang masa. Baru empat hari diputar, Ayat-Ayat Cinta sudah membukukan jumlah 700.000 penonton. Jumlah penonton terus bertambah hingga tembus angka 2,9 juta hanya tiga minggu setelah beredar. Kini dapat dipastikan jumlah penonton sudah lebih dari tiga juta orang (SINDO, 23 Maret 2008)
Oya, angka itu hanya dihitung dari penonton yang nonton di bioskop, belum lagi yang nonton via VCD/DVD bajakan yang beredar luas. Kayaknya bisa lebih banyak lagi tuh. Wis, pokoke pol banget dah. Film yang diangkat dari novel karya Kang Abik, sapaan akrab Habiburrahman el-Shirazy ini memang diprediksi bakalan sukses. Maklum, bukunya aja udah tercetak sekitar 400.000 eksemplar. Belum lagi kalo dihitung dengan buku bajakannya bisa-bisa lebih dari itu. Maklum, para pembajak tahu betul buku (termasuk film) apa saja yang lagi laris di pasaran. Hehehe…
Meski demikian, sukses film Ayat-Ayat Cinta ini rupanya diiringi juga dengan pro-kontra. Banyak yang mendukung, tapi nggak sedikit pula yang protes keras. Mulai dari isi cerita di film beda jauh dengan isi di novelnya, bahkan ada perbedaan yang sangat fatal seperti tidak ditampilkannya di film padahal itu termasuk bagian penting dari isi novel.
Sebagian blogger yang memprotes film tersebut bahkan mempertanyakan masalah fikih (syariat) dalam film itu. Misalnya, boleh nggak sih adegan Fedi Nuril ama Rianti Cartwright di film itu? Gimana pun juga kan mereka bukan mahram. Belum lagi ada kesalahan penyebutan definisi ahlu dzimah yang keliru dan tidak pada tempatnya. Saya nggak tahu apa kutipan itu ada di bukunya juga apa nggak, jadi nggak bisa bedain. Tapi yang jelas dialog di film tersebut yang menyampaikan suatu istilah dengan keliru harus segera diluruskan.
Oya, film tersebut emang nggak semuanya memuat kesalahan, ada juga yang benarnya kok. Seperti syariat poligami, aturan ta’aruf, tentang sabar dan ikhlas, tapi semua itu jadi hambar gara-gara ada beberapa bagian yang terpenting malah dihilangan dalam film.
Memang sih, Hanung Bramantyo sebagai sutradara ngasih komen dengan maraknya protes terhadap karyanya tersebut, khususnya yang membandingkan dengan isi novelnya, “Harus dipisahkan antara novel dengan film, keduanya merupakan medium yang berbeda.” (SINDO, 23 Maret 2008)
Oke deh, terlepas dari pro dan kontra terhadap film Ayat-Ayat Cinta dari perbedaan antara isi cerita di novel dan film, tapi Ayat-Ayat Cinta juga perlu dikritisi. Terutama dari sisi penyampaian pesan Islam dan media penyampaian pesannya. Sebab, orang udah kadung ikutan heboh dengan tema “cinta” yang diusung dan “konflik emosi” yang bertaburan di film tersebut, jadi kurang kritis. So, tanpa maksud bikin suasana tambah ?runyam’, akhirnya gaulislam ikut ngebahas dari sisi lain agar menjadi perhatian kaum muslimin untuk bisa menempatkan persoalan dengan benar.
Tak berani suarakan Islam
Boys and gals, ada satu adegan yang dipotong di film tersebut yang beda jauh alias bertolak-belakang dengan cerita di novelnya. Demi mengedepankan sisi toleransi, Hanung memang mencoba menghilangkan beberapa adegan yang sekiranya memicu polemik. “Adegan seperti wartawan Amerika bernama Alice dan Maria seorang Kristen Koptik yang akhirnya masuk Islam, itu saya hilangkan, karena saya tidak ingin film ini men-judge orang untuk masuk Islam,” katanya (SINDO, 23 Maret 2008)
Lha. Piye iki? Untuk kasus ini, selain mengecewakan bin mengkhianati para pembaca novel tersebut, juga film ini menjadi kendaraan untuk membohongi publik. Bukan hanya karena beda dengan cerita di novelnya, tapi makna toleransi pun udah salah kaprah. Seharusnya kita berpikir, bahwa saat ini orang nggak mudah (meski ada juga yang gampang terpengaruh) untuk percaya begitu saja dengan isi film, jadi kekhawatiran akan menimbulkan polemik jutsru berlebihan. Sebab, sejatinya polemik itu bisa saja terjadi. Bandingkan dengan buku dan film The Da Vinci Code yang konon kabarnya bisa mengguncang iman kaum kristiani karena isinya yang bisa menggoyahkan keyakinan akidah mereka. Tapi, show must be go on. Pembaca dan penonton yang akan menilainya langsung. Bisa pro bisa juga kontra. Nggak ada yang perlu dikhawatirkan bukan?
Tapi kalo belum apa-apa sudah tidak berani menyuarakan kebenaran Islam, apa yang mau dibanggakan? Prestasi penonton yang mencapai 3 juta orang lebih tak berarti apa-apa-kecuali keuntungan secara materi dan ketenaran-jika isinya meracuni keyakinan dan akidah kaum muslimin itu sendiri. Itulah kenapa kita sangat menyayangkan isi film ini. Saya juga nggak tahu kenapa penulis novelnya mau saja ceritanya diubah ketika difilmkan. Apa pun alasannya, menurut saya, dalam pandangan ajaran Islam, hal itu adalah sebuah kelalaian yang bisa berakibat fatal bagi pemahaman kaum muslimin. Allahu’alam.
Bandingkan dengan film-film Hollywood yang seringkali menyisipkan dialog yang menyudutkan Islam seperti di film Die Hard 4.0, Shooter, Eraser dan lainnya yang secara terang-terangan berani menyebut kaum muslimin sebagai teroris. Pertanyaannya, mengapa kita nggak berani menyampaikan kebenaran itu? Mengapa adegan penting seperti masuk Islamnya dua tokoh dalam film tersebut dihilangkan dengan alasan toleransi?
Sekadar mengingatkan bahwa toleransi tidaklah berarti mengakui kebenaran agama mereka, tapi mengakui keberadaan agama mereka dalam realitas bermasyarakat. Trus, toleransi juga bukan berarti kompromi atau bersifat sinkretisme dalam keyakinan dan ibadah. Oya, sinkretisme adalah menyamakan bahwa semua agama tuh benar. Padahal, kita tak boleh sama sekali ngikuti agama dan ibadah mereka dengan alasan apapun (Drs. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A., Kuliah Akhlaq, hlm 210)
Lagian sikap kita udah jelas kok seperti yang udah diajarin Allah Swt. dalam firmanNya: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku” (QS al-Kaafiruun [109]: 6)
So, menurut saya, justru dengan menghilangkan adegan penting masuk Islamnya Maria dan Alice di film itu sudah tidak menghargai karya penulis novelnya, juga seluruh kaum muslimin karena hak mereka untuk mendapatkan informasi yang benar dan pemahaman yang shahih ?dirampok’ oleh pembuat film tersebut.
Belum lagi adegan di sebuah kendaraan umum yang menggambarkan dialog antara Fahri dengan seorang penumpang yang ngotot tidak membolehkan orang kafir Amerika untuk diberikan tempat duduk. Fahri digambarkan menyampaikan pernyataan tentang ahlu dzimah tetapi keliru dan bukan pada tempatnya. Pada dialog itu disebutkan:”Orang asing yang masuk ke dalam sebuah negara secara sah berarti ia seorang ahlu dzimah yang harus dilindungi keselamatan dan kehormatannya.”
Padahal yang dimaksud ahlu dzimah (kafir dzimmy) adalah orang non-Muslim yang menjadi warga negara, yang hidup bersama mereka (kaum Muslim) di Negara Islam (Daulah Khilafah, pen.), membayar jizyah dan taat kepada hukum-hukum Islam, kecuali yang menyangkut praktik hukum yang diakui untuk mereka, seperti hukum-hukum tentang akidah, ibadah, nikah, talak, makanan (minum) dan pakaian. (Imam asy-Syafi’i, al-Umm, juz IV, hlm. 213-dikutip pada buku Jihad dan Perang, jilid I, karya Dr. Muhammad Khair Haekal, hlm. 218)
Sabda Rasulullah saw.:“Barangsiapa yang membunuh seorang (kafir) yang sedang terikat perjanjian (mu’ahadah) yang telah mendapat perlindungan dari Allah dan RasulNya (dzimmiy), maka ia telah melanggar perlindungan Allah-yakni mengkhianati perjanjian-dan dia tidak akan mencium baunya surga, meskipun bau surga itu tercium dari jarak sejauh perjalanan yang lamanya 40 musim gugur.”
Selain itu Ali bin Abi Thalib ra pernah mengatakan, “Sesungguhnya, hanya dengan membayar jizyah, maka harta mereka berstatus sama seperti harta kita dan darah mereka sama seperti darah kita.” (Muhammad Husain Abdullah, Studi Dasar-dasar Pemikiran Islam, hlm. 211)
Persoalannya, Mesir–yang menjadi setting tempat dalam novel dan film itu–bukan negara Islam. Mesir tuh negara sekular, sama dengan Indonesia dan negeri Islam lainnya karena udah menerapkan sistem Kapitalisme-Demokrasi dari Barat. Lagian, sampai saat ini, sejak keruntuhan Khilafah Islamiyah pada 3 Maret 1924 belum berdiri lagi Khilafah Islamiyah (Negara Islam), jadi penyebutan istilah ahlu dzimmah di film tersebut jelas keliru banget dan nggak pada tempatnya.
Oya, ini bukan kritikan, tapi masukan tanda peduli dan cinta kepada kaum muslimin. Jangan sampe isi film ini kemudian mempengaruhi dengan mudah–meski saya akui tak mudah orang untuk terpengaruh begitu saja. Apalagi jika isinya ternyata mengaburkan pemahaman Islam itu sendiri. Jangan sampe kemudian film ini dijadikan senjata untuk melemahkan pemahaman kaum muslimin secara perlahan-lahan. Masih mending dituduh teroris sehingga masih bisa berontak dan menolak. Lha, kalo ?dibodohi’, sulit orang bisa berontak kecuali mereka yang sadar dan mengedepankan pemahaman, bukan perasaan belaka.
Saatnya kampanyekan Islam apa adanya
Jangan menutupi kebenaran Islam, apalagi sampe menyimpangkan ayat-ayat Allah dan sabda Rasulullah demi mendapat respon positif dan atas nama dakwah yang katanya secara damai itu. Padahal sejatinya bukan tak mungkin malah menikam Islam itu sendiri karena penyampaiannya yang keliru.
So, meski mungkin tulisan ini tak akan banyak terbaca karena disapu gelombang informasi ?sepihak’ tentang fenomena film ini, tapi paling nggak kamu yang baca harus mulai berlatih menjadi cerdas dengan menjadikan Islam sebagai pandangan dan pedoman hidup. Tentu, agar tetap mampu menyampaikan Islam apa adanya. Jangan beralasan atas nama dakwah, tapi tindakannya malah menghilangkan bagian yang semestinya disampaikan sebagai dakwah seperti dalam film Ayat-Ayat Cinta ini. Apalagi kalo harus ngomongin aktivitas pemainnya, gimanapun Fedi Nuril ama Rianti Cartwright bukan mahram dalam kehidupan nyata, kok bisa mesraan gitu di film? Apa karena atas nama dakwah? Halah, dakwah kok jadi hiburan dan tambang uang para kapitalis. Musibah…
SENYUM MU
Posted by DJ Dika
Senyum mu yang selalu ku ingat
Wajahmu yang bulat
Bibirmu yang menggoda
Rambut mu yang menawan
Seakan selalu ku bawa kemimpi
Setiap hari
Setiap detik
Setiap ku berlari
Inginku bertemu lagi
Dengan kau kekasih
Pujaan hati
Idaman tiap lelaki
Ku tahu kau juga merinduku
Menutup mata menahan pilu
Biarkan ku disini dulu
Tuk mencari sesuatu
Nantikan lah kedatangan ku
Ku kan dating kepadamu
Jangan terlalu menghawatirkan ku
Karma ku pasti kan kembali kepadamu
“ DJ.Dika “
Senyum mu yang selalu ku ingat
Wajahmu yang bulat
Bibirmu yang menggoda
Rambut mu yang menawan
Seakan selalu ku bawa kemimpi
Setiap hari
Setiap detik
Setiap ku berlari
Inginku bertemu lagi
Dengan kau kekasih
Pujaan hati
Idaman tiap lelaki
Ku tahu kau juga merinduku
Menutup mata menahan pilu
Biarkan ku disini dulu
Tuk mencari sesuatu
Nantikan lah kedatangan ku
Ku kan dating kepadamu
Jangan terlalu menghawatirkan ku
Karma ku pasti kan kembali kepadamu
“ DJ.Dika “
Perahu itu..
Posted by DJ Dika
Saat, keinginan berlayar tak tertahan
Kubawa hati mengarungi samudera nan terbungkus awan
Indah, seindah rasa menyelimuti harapan
Tentang asa, cita-cita dan masa depan
Kupenuhi perahu dengan segumpal CINTA
Kugantungi secercah cahaya sebagai penyerta
Kuhiasi dinding-dindingya dengan rindu yang sejuta
Kukayuh sesekali dengan cemburu dan air mata
Dan....
Ketika perahu terlalu sarat akan beban
Ketika terbentuk hasrat memiliki perahu tambahan
Ketika aku tak sanggup mengayuh sendirian
Aku tergulung ombak demikian kencang
Terguncang keras menerpa bebatuan karang
Meninggalkan cerita tentang harapan, terbuang
Mengikis gumpalan CINTA yang terlanjur memberi terang
Aku tenggelam
Perahuku karam
BuaTmoeh seLalU ShinTa...
Saat, keinginan berlayar tak tertahan
Kubawa hati mengarungi samudera nan terbungkus awan
Indah, seindah rasa menyelimuti harapan
Tentang asa, cita-cita dan masa depan
Kupenuhi perahu dengan segumpal CINTA
Kugantungi secercah cahaya sebagai penyerta
Kuhiasi dinding-dindingya dengan rindu yang sejuta
Kukayuh sesekali dengan cemburu dan air mata
Dan....
Ketika perahu terlalu sarat akan beban
Ketika terbentuk hasrat memiliki perahu tambahan
Ketika aku tak sanggup mengayuh sendirian
Aku tergulung ombak demikian kencang
Terguncang keras menerpa bebatuan karang
Meninggalkan cerita tentang harapan, terbuang
Mengikis gumpalan CINTA yang terlanjur memberi terang
Aku tenggelam
Perahuku karam
BuaTmoeh seLalU ShinTa...
YANG TERPENDAM
Yang TerpendamSaat...
Kudengar lagi suaranya
Hanya bahagia memenuhi isi dada
Karna, kita bisa jalan berdua
Ketika...
Kau genggam erat tanganku
Melangkah dalam diam dan ragu
Aku hanya bisa tergugu, serba kelu
Bicaralah,...
Aku hanya bisa menjaga sisi hati
Agar kita bisa semakin dekat berdiri
Dalam bisu, tanpa ada kata ..mengiringi
Ah...bicaralah
Agar yang terpendam sejak lama
Bisa mengikat hati kitaDalam CINTA
Distro apa butik seh ?

Distro apa butik seh ?
Posted by DJ Dika
Tau distro ga? Distro singkatan dari distribution outlet, sebuah tempat yang
menyediakan tempat untuk menjual barang-barang lokal buatan anak negeri
dengan ‘harga terjangkau’, motto yang sering dihembus-hembuskan adalah SUPPORT YOUR LOCAL! Distro ga harus berada di tempat yang bagus dan ber-AC, sesuai definisinya, emperan pinggir jalan pun jadi, yang penting adalah tempat buat menggelar barang dagangan lokal, well distro bisa dibilang istilah keren dari PK-5. Prinsipnya sama cuman barangnya keren-nan dikit lah. Barang-barangnya memang buatan anak negeri sendiri yang ‘belum terkenal’ well mungkin ada beberapa yang udah punya nama, terutama merk clothing dari Bandung seperti 347, Cosmic, Ouval, NLS ataupun Magnawear. Tapi sepertinya hari-hari ini yang distro udah mulai booming di mana-mana, fungsi aslinya sebagai penyalur barang local menjadi teralihkan menjadi BUTIK!
Dulu sekali sebelum menjamurnya distro di indonesia, para pionir clothingan independent ini memang ngebuat distro seperti yang digambarkan diatas. Dimana barang2 andalan sebuah distro itu adalah T-Shirt2 band local yang minim kualitas dan kaset2 Indie label.Sekarang udah terjadi perubahan waktu, dimana kebutuhan konsumen distro menjadi bertambah. Kenapa hanya jual T-shirt dan kaset2 aja ? kenapa tidak ngejual T-shirt dengan design yang lebih bagus dan kualitas bahan yang lebih bagus. Maka terjadilah pengelompokan untuk pengusaha distro dan clothing local ini.Antara lain.
Pengusaha distro yang mempunyai brand clohing.
Pengusaha yang mempunyai brand clothing tapi tidak mempunyai distro.
Pengusaha distro aja.
Hasilnya ?Karena ada pengelompokan seperti itu membuat kompetisi menjadi semakin bagus,..Alhasil, Distro udah mulai mengarah ke Butik. Dimana butik ini masih tetep funsinya sebagai penyalur bahan local.Saya tidak keberatan, gimana dengan anda ?
http://diansocool.blogspot.com/2004/07/distro-apa-butik-seh.html
Bisa dibayangkan kalo distro sudah menyerupai butik tentu saja harganya juga kisaran butik pula, untuk seekor kaos oblong dengan ukuran yang tidak manusiawi (hey, not all women sized 6!!!) harganya berkisar antara 45-65rb rupiah, man..hell no I’m gonna buy that! Jaket dengan design biasa aja dan bahan biasa aja dengan merk R*****m berkisar antara 125-140rb, shit! Kalopun gw udah kerja dan punya uang ndiri gw ga akan beli, apalagi ini masih pake duit ortu gw, hell NO! Katanya anti kapitalis kok nyekik gitu harganya, asal tau aja sembarang t-shirt juga ga pa-pa asal nyaman saya pake, ga usah gaya-gaya-an, ga perlu. Sepotong t-shirt beli di Matahari paling cuman 10rb, kelebihannya kalo saya beli di distro sekitar 35rb bisa dibuat yang laen, gw ga munafik bilang kalo punya duit lebih buat nyumbang ke yang ga mampu, gw hanya sekali-sekali nyumbang, duit lebih itu saya pakai buat keperluan pribadi dunk, buat zine misalnya, ngenet dan tentu saja nongkrong.
Harga tidak masuk akal kah ?Rata2 clothingan local tidak bisa continue produksi dengan bahan yang sama.Kenapa ?Karena resource bahan untuk clothingan local itu adalah bahan sisa export.Karena resourcenya susah, harga bahan baku tersebut juga menjadi mahal.Mungkin itu yang membikin beda clothingan local. Dari segi design yang di sablon, sampe dengan jenis bahannya bisa dikatakan exsklusive. Tapi kalo emang rasanya harga dan bahan tidak cocok, maka JANGAN beli produk itu. Salah satu strategi bisnis clothingan local justru memurahkan produk yang bahannya sama dengan kualitas luar negri.Tapi masih banyak kok yang ngeyel, yang ngasih harga tidak masuk akal,..Dan alasan yang paling masuk akal untuk masalah harga itu semua hanya, mereka memproduksi dengan quantity yang sangat kecil..Memproduksi dengan kuantity yang kecil membuat biayanya menjadi gede,..Dengan quantity seperti itu mereka tentu saja mengharapkan keuntungan yang banyak,..So,..Harga masih tidak masuk akal kah ?
Dulu sekali sebelum menjamurnya distro di indonesia, para pionir clothingan independent ini memang ngebuat distro seperti yang digambarkan diatas. Dimana barang2 andalan sebuah distro itu adalah T-Shirt2 band local yang minim kualitas dan kaset2 Indie label.Sekarang udah terjadi perubahan waktu, dimana kebutuhan konsumen distro menjadi bertambah. Kenapa hanya jual T-shirt dan kaset2 aja ? kenapa tidak ngejual T-shirt dengan design yang lebih bagus dan kualitas bahan yang lebih bagus. Maka terjadilah pengelompokan untuk pengusaha distro dan clothing local ini.Antara lain.
Pengusaha distro yang mempunyai brand clohing.
Pengusaha yang mempunyai brand clothing tapi tidak mempunyai distro.
Pengusaha distro aja.
Hasilnya ?Karena ada pengelompokan seperti itu membuat kompetisi menjadi semakin bagus,..Alhasil, Distro udah mulai mengarah ke Butik. Dimana butik ini masih tetep funsinya sebagai penyalur bahan local.Saya tidak keberatan, gimana dengan anda ?
http://diansocool.blogspot.com/2004/07/distro-apa-butik-seh.html
Bisa dibayangkan kalo distro sudah menyerupai butik tentu saja harganya juga kisaran butik pula, untuk seekor kaos oblong dengan ukuran yang tidak manusiawi (hey, not all women sized 6!!!) harganya berkisar antara 45-65rb rupiah, man..hell no I’m gonna buy that! Jaket dengan design biasa aja dan bahan biasa aja dengan merk R*****m berkisar antara 125-140rb, shit! Kalopun gw udah kerja dan punya uang ndiri gw ga akan beli, apalagi ini masih pake duit ortu gw, hell NO! Katanya anti kapitalis kok nyekik gitu harganya, asal tau aja sembarang t-shirt juga ga pa-pa asal nyaman saya pake, ga usah gaya-gaya-an, ga perlu. Sepotong t-shirt beli di Matahari paling cuman 10rb, kelebihannya kalo saya beli di distro sekitar 35rb bisa dibuat yang laen, gw ga munafik bilang kalo punya duit lebih buat nyumbang ke yang ga mampu, gw hanya sekali-sekali nyumbang, duit lebih itu saya pakai buat keperluan pribadi dunk, buat zine misalnya, ngenet dan tentu saja nongkrong.
Harga tidak masuk akal kah ?Rata2 clothingan local tidak bisa continue produksi dengan bahan yang sama.Kenapa ?Karena resource bahan untuk clothingan local itu adalah bahan sisa export.Karena resourcenya susah, harga bahan baku tersebut juga menjadi mahal.Mungkin itu yang membikin beda clothingan local. Dari segi design yang di sablon, sampe dengan jenis bahannya bisa dikatakan exsklusive. Tapi kalo emang rasanya harga dan bahan tidak cocok, maka JANGAN beli produk itu. Salah satu strategi bisnis clothingan local justru memurahkan produk yang bahannya sama dengan kualitas luar negri.Tapi masih banyak kok yang ngeyel, yang ngasih harga tidak masuk akal,..Dan alasan yang paling masuk akal untuk masalah harga itu semua hanya, mereka memproduksi dengan quantity yang sangat kecil..Memproduksi dengan kuantity yang kecil membuat biayanya menjadi gede,..Dengan quantity seperti itu mereka tentu saja mengharapkan keuntungan yang banyak,..So,..Harga masih tidak masuk akal kah ?
Minggu, 27 April 2008
SATU KATA UNTUKMU
Posted by DJ Dika
Ku tak peduli bila ku
benar-benar cinta mati
Ku tak peduliku memang
begini bila ku benar-benar
cinta mati...
Ku tak peduliku memang
begini bila ku benar-benar
cinta mati...
Shinta Nich..kata-kata selalu kupegang erat..
Nich.. semua hanya untukmu seorang,.
Nich.. semua hanya untukmu seorang,.
Jumat, 25 April 2008
PUISI-PUISI CINTA
Pada Saatnya,
Ketika musim berganti
Dan gugusan mendung yang ranum
Menitikkan tetes hujan pertama
Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu
Menyibak kabut keraguan
Lalu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu
Pada Saatnya,
Di ujung perjalanan
Akan kubingkai binar matamu
Bersama gelegak gairah jiwaku
Menjadi lukisan indah di lekuk cakrawala
Dalam leleh cahaya bulan melumuri langit
ditingkah semilir angin laut dan tarian ombak
membelai lembut kristal pasir pantai
Pada Saatnya,
Akan kubuatmu terjaga dari lelap tidur
lalu bersama merajut impian yang tak segera usai,
Dalam genangan cinta dipalung kalbu
Dan getar cumbu tak berkesudahan
DJ Dika,Medan-25/4/08
Ketika musim berganti
Dan gugusan mendung yang ranum
Menitikkan tetes hujan pertama
Biduk yang kukayuh akan merapat ke dermagamu
Menyibak kabut keraguan
Lalu mendamparkan hasrat yang hangat dibakar rindu
Pada Saatnya,
Di ujung perjalanan
Akan kubingkai binar matamu
Bersama gelegak gairah jiwaku
Menjadi lukisan indah di lekuk cakrawala
Dalam leleh cahaya bulan melumuri langit
ditingkah semilir angin laut dan tarian ombak
membelai lembut kristal pasir pantai
Pada Saatnya,
Akan kubuatmu terjaga dari lelap tidur
lalu bersama merajut impian yang tak segera usai,
Dalam genangan cinta dipalung kalbu
Dan getar cumbu tak berkesudahan
DJ Dika,Medan-25/4/08
Kamis, 24 April 2008
Perjuangan Infrastruktur Telekomunikasi Rakyat.
Posted by DJ Dika
Internet & komputer biasanya di anggap barang mewah & tidak mungkin di nikmati rakyat kecil Indonesia. Tidak percaya? Coba tanya Pak Amin tukang beca di ujung jalan, apakah beliau mengetahui tentang komputer & Internet? Jawab-nya sederhana & jelas ….. EGP, bisa makan hari ini saja sudah untung. Nuansa jawaban sangat berbeda jika kita berbincang dengan anak sekolahan. Para siswa akan sangat antusias bertanya, berdiskusi tentang komputer & Internet. Antusiasme anak-anak muda ini tidak terlalu terlihat menyolok antara “the haves” dan “the have not”, semua umumnya sangat suka main komputer & Internet bahkan sampai ke anak sekolah di pelosok desa Karacak di kaki Gunung Salak yang jaraknya sekitar tujuh (7) kilometer dari Leuwi Liang Jasinga sekitar dua jam dari kota Bogor. Ya, memang mereka tidak menggunakan komputer Pentium IV atau Xeon yang paling canggih yang biasa kita lihat di kamar anak “the haves” yang bermukim di kota besar seperti Bogor, Jakarta, Bandung, Pentium I bekas yang dapat diperoleh sekitar Rp 300-500.000,- pun jadi untuk belajar komputer di pedesaan. Pertanyaan yang menggelitik, sampai kapankah bangsa Indonesia harus seperti Pak Amin? Kapankah kita melihat sebagian besar bangsa Indonesia tidak lagi gaptek “Gagap Teknologi”? Haruskah kita menunggu uluran tangan pemerintah? Perlukah kita menunggu investor? Perlukah kita naikan tarif telekomunikasi agar dapat membangun infrastruktur untuk rakyat? Masih banyak lagi pertanyaan yang terbesit di kepala; tapi tidak banyak solusi nyata
Internet & komputer biasanya di anggap barang mewah & tidak mungkin di nikmati rakyat kecil Indonesia. Tidak percaya? Coba tanya Pak Amin tukang beca di ujung jalan, apakah beliau mengetahui tentang komputer & Internet? Jawab-nya sederhana & jelas ….. EGP, bisa makan hari ini saja sudah untung. Nuansa jawaban sangat berbeda jika kita berbincang dengan anak sekolahan. Para siswa akan sangat antusias bertanya, berdiskusi tentang komputer & Internet. Antusiasme anak-anak muda ini tidak terlalu terlihat menyolok antara “the haves” dan “the have not”, semua umumnya sangat suka main komputer & Internet bahkan sampai ke anak sekolah di pelosok desa Karacak di kaki Gunung Salak yang jaraknya sekitar tujuh (7) kilometer dari Leuwi Liang Jasinga sekitar dua jam dari kota Bogor. Ya, memang mereka tidak menggunakan komputer Pentium IV atau Xeon yang paling canggih yang biasa kita lihat di kamar anak “the haves” yang bermukim di kota besar seperti Bogor, Jakarta, Bandung, Pentium I bekas yang dapat diperoleh sekitar Rp 300-500.000,- pun jadi untuk belajar komputer di pedesaan. Pertanyaan yang menggelitik, sampai kapankah bangsa Indonesia harus seperti Pak Amin? Kapankah kita melihat sebagian besar bangsa Indonesia tidak lagi gaptek “Gagap Teknologi”? Haruskah kita menunggu uluran tangan pemerintah? Perlukah kita menunggu investor? Perlukah kita naikan tarif telekomunikasi agar dapat membangun infrastruktur untuk rakyat? Masih banyak lagi pertanyaan yang terbesit di kepala; tapi tidak banyak solusi nyata
yang dapat dinikmati rakyat. Tulisan ini merupakan cuplikan pengalaman panjang 10+ tahun untuk menggapai cita-cita sederhana “Melihat Bangsa Indonesia yang survive karena kekuatan otak-nya, bukan otot-nya”, tapi terbukti sangat sulit di implementasi. Sebagai bekas PNS, bekas dosen ITB, tidak banyak modal yang saya miliki. Saya hanya memiliki (1) pengetahuan di kepala saya dan (2) banyak teman & kenalan saya dalam berbagai forum diskusi di Internet. Hanya dua (2) aset utama saya; tidak lebih tidak kurang. Berbekal aset tersebut, manouver dilakukan untuk mencoba merealisasikan sebuah cita-cita sederhana, tanpa bantuan pemerintah, tanpa bantuan Bank Dunia, tanpa bantuan IMF, tanpa bantuan organisasi besar, semua bertumpu pada masyrakat Indonesia sendiri dan memang harus di akui tidak mudah. Inti dari pegalaman ersebut sebetulnya sangat sederhana, ternyata rakyat Indonesia bukanlah bangsa “miskin” dan ukan pula bangsa “bodoh”. Terus terang & sangat di sayangkan, bangsa ini tidak dipandaikan an dak diberi kesempatan untuk berkiprah secara maksimal, sementara para elit sibuk berdagang api dan memikirkan kocek-nya.
Pemandaian Anak Bangsa Kunci Paling Strategis
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama sepuluh (10) tahun terakhir, titik paling strategis dari seluruh proses adalah pemandaian anak bangsa. Khususnya, sangat effektif pada siswa di tingkat sekolah, terutama sekolah menengah. Mereka sangat antusias dan sangat mudah mengadopsi teknologi terbaru, hacker tampaknya adalah figur ideal yang di citakan oleh para pemuda ini. Membelajarkan hacking beserta teknik komputer lainnya tampaknya menjadi sebuah pintu masuk yang baik bagi anak muda ini ke dunia komputer & Internet. Terkadang bersama teman-teman di ICTWatch (http://www.ictwatch.com/) kami roadshow dari satu sekolah ke sekolah yang lain, dari satu pesantren ke pesantren yang lain, mensosialisasikan komputer bagi dunia anak muda ini.
Menjadi hacker, ternyata mengharuskan anak-anak muda ini untuk banyak membaca, harus mengerti secara mendalam teknologi informasi dan pada akhirnya menjadikan anak muda ini seorang ahli. Perlu di poles ahlak yang baik agar tidak menyalah gunakan ilmunya untuk hal tidak baik. Yang menarik, ternyata anak-anak muda ini yang menjadi agen perubahan di masyarakatnya. Mereka yang mempengaruhi orang tua-nya, kakek, nenek, paman, bibi, maupun lingkungannya untuk menggunakan komputer. Akses ilmu akan di mudahkan bila anak-anak muda ini mempunyai akses Internet 24 jam. Masalahnya, murahkah akses Internet dan komputer bagi siswa sekolah? Jangan kaget, bahwa dengan memberikan bekal teknik ke para siswa maupun beberapa guru yang mempunyai background teknik, sebuah sekolah akan mampu memberikan servis e-mail kepada siswa dengan biaya Rp. 1-3.000 / bulan / siswa. Bagi yang kreatif, dapat memberikan servis Web dan full akses Internet 24 jam dengan Rp. 5000 / siswa / bulan. Dengan biaya sedemikian murah, biaya investasi kembali dalam waktu 1-2 tahun saja. Ternyata sangat murah bukan?
Sialnya, tantangan terbesar justru datang dari pimpinan sekolah, guru dan yayasan. Pertanyaan standar yang sering di ajukan antara lain, mengapa kita perlu Internet / komputer padahal di kurikulum nasional tidak di cantumkan; pihak sekolah tidak memperoleh kredit apa-apa dengan adanya komputer / internet. Kalaupun akhirnya mau mengimplementasikan internet untuk sekolah, seringkali uang iuran Internet siswa diambil untuk keperluan lain, seperti kesejahteraan guru dsb. Repot memang, kita berhadapan dengan realita di lapangan yang mengacu pada keberhasilan fisik, daripada sesuatu yang intangible.
Bagi mereka yang berhasil mengimplementasikan akses Internet di sekolah, seluruh ilmu untuk memberikan akses murah tersedia secara gratis di http://www.bogor.net/idkf & http://www.apjii.or.id/onno, maupun berbagai buku tentang Wireless Internet maupun warung Internet di berbagai toko buku. Bagi mereka yang beruntung, saya biasanya mengcopykan secara gratis perpustakaan saya dalam harddisk saya sekitar 7Gbyte, sekitar 15.000+ file. Sebagian dapat di ambil di Web, seperti http://onno.vlsm.org/. Memang saya tidak percaya hak cipta / copyright & termasuk aliran copyleft / copywrong. Terbukti, setelah 10+ tahun mengcopykan perpustakaan saya secara gratis ternyata tidak membuat saya jatuh miskin, bahkan Alhamdullillah sebaliknya. Dengan demikian ilmu pengetahuan akan lebih cepat tersebar, termasuk amal & pahala-nya.
Penyebarkan ilmu pengetahuan secara cepat ternyata mengaktifkan sebuah proses pembelajaran jarak jauh. Interaksi antar para pecinta teknologi informasi yang ingin bertanya dan mengembangkan ilmunya lebih lanjut ternyata menjadi sebuah kebutuhkan yang sangat mendesak. Memang sangat di sayangkan bahwa teknik Internet maupun berbagai ilmu yang ada di Internet ini tidak masuk ke kurikulum formal di sekolah maupun perguruan tinggi, memang bisa di maklumi karena DIKNAS memang sangat ketinggalan jaman khususnya untuk teknologi tinggi. Akhirnya proses belajar jarak jauh lebih banyak bertumpu pada mailing list atau forum diskusi melalui e-mail di Internet yang terpusat di http://groups.yahoo.com/. Pada saat ini, terdapat ribuan mailing list Indonesia di yahoogroups.com dan menjadi tumpuan proses interaksi komunitas cyber Indonesia, termasuk proses belajar mengajar informal melalui Internet.
Kami tidak mengenal ijazah, sertifikat & akreditasi dalam proses pemandaian komunitas di Internet. Pengakuan datang secara langsung dari komunitas Internet, melihat kepiawaian dalam berbagai diskusi / hasil karya seseorang. Berbagai tawaran pekerjaan dan kerjasama datang dengan sendirinya kepada mereka yang diakui keahliannya, bukan sekedar NATO & banyak bicara saja. Pola ini akhirnya memungkinkan seseorang untuk bekerja tanpa kantor di Internet.
Ukuran paling sederhana untuk melihat kepiawaian seseorang dari jumlah publikasi / buku yang di tulis. Jangan kaget kalau anda ke toko buku, akan melihat banyak sekali buku teknologi informasi yang di tulis banyak penulis muda dari berbagai kota. Buku tersebut bukan terjemahan, kebanyakan betul-betul karya tulis anak-anak muda ini. Saya berani bertaruh banyak Professor kalah keahliannya maupun karya tulis-nya jika di tandingkan dengan anak-anak muda ini. Saya mengenal beberapa orang yang usianya kurang dari 30 tahun tapi telah menulis hampir 10 judul buku. Kami umumnya berkumpul di mailing list penulis-ti@yahoogroups.com.
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman selama sepuluh (10) tahun terakhir, titik paling strategis dari seluruh proses adalah pemandaian anak bangsa. Khususnya, sangat effektif pada siswa di tingkat sekolah, terutama sekolah menengah. Mereka sangat antusias dan sangat mudah mengadopsi teknologi terbaru, hacker tampaknya adalah figur ideal yang di citakan oleh para pemuda ini. Membelajarkan hacking beserta teknik komputer lainnya tampaknya menjadi sebuah pintu masuk yang baik bagi anak muda ini ke dunia komputer & Internet. Terkadang bersama teman-teman di ICTWatch (http://www.ictwatch.com/) kami roadshow dari satu sekolah ke sekolah yang lain, dari satu pesantren ke pesantren yang lain, mensosialisasikan komputer bagi dunia anak muda ini.
Menjadi hacker, ternyata mengharuskan anak-anak muda ini untuk banyak membaca, harus mengerti secara mendalam teknologi informasi dan pada akhirnya menjadikan anak muda ini seorang ahli. Perlu di poles ahlak yang baik agar tidak menyalah gunakan ilmunya untuk hal tidak baik. Yang menarik, ternyata anak-anak muda ini yang menjadi agen perubahan di masyarakatnya. Mereka yang mempengaruhi orang tua-nya, kakek, nenek, paman, bibi, maupun lingkungannya untuk menggunakan komputer. Akses ilmu akan di mudahkan bila anak-anak muda ini mempunyai akses Internet 24 jam. Masalahnya, murahkah akses Internet dan komputer bagi siswa sekolah? Jangan kaget, bahwa dengan memberikan bekal teknik ke para siswa maupun beberapa guru yang mempunyai background teknik, sebuah sekolah akan mampu memberikan servis e-mail kepada siswa dengan biaya Rp. 1-3.000 / bulan / siswa. Bagi yang kreatif, dapat memberikan servis Web dan full akses Internet 24 jam dengan Rp. 5000 / siswa / bulan. Dengan biaya sedemikian murah, biaya investasi kembali dalam waktu 1-2 tahun saja. Ternyata sangat murah bukan?
Sialnya, tantangan terbesar justru datang dari pimpinan sekolah, guru dan yayasan. Pertanyaan standar yang sering di ajukan antara lain, mengapa kita perlu Internet / komputer padahal di kurikulum nasional tidak di cantumkan; pihak sekolah tidak memperoleh kredit apa-apa dengan adanya komputer / internet. Kalaupun akhirnya mau mengimplementasikan internet untuk sekolah, seringkali uang iuran Internet siswa diambil untuk keperluan lain, seperti kesejahteraan guru dsb. Repot memang, kita berhadapan dengan realita di lapangan yang mengacu pada keberhasilan fisik, daripada sesuatu yang intangible.
Bagi mereka yang berhasil mengimplementasikan akses Internet di sekolah, seluruh ilmu untuk memberikan akses murah tersedia secara gratis di http://www.bogor.net/idkf & http://www.apjii.or.id/onno, maupun berbagai buku tentang Wireless Internet maupun warung Internet di berbagai toko buku. Bagi mereka yang beruntung, saya biasanya mengcopykan secara gratis perpustakaan saya dalam harddisk saya sekitar 7Gbyte, sekitar 15.000+ file. Sebagian dapat di ambil di Web, seperti http://onno.vlsm.org/. Memang saya tidak percaya hak cipta / copyright & termasuk aliran copyleft / copywrong. Terbukti, setelah 10+ tahun mengcopykan perpustakaan saya secara gratis ternyata tidak membuat saya jatuh miskin, bahkan Alhamdullillah sebaliknya. Dengan demikian ilmu pengetahuan akan lebih cepat tersebar, termasuk amal & pahala-nya.
Penyebarkan ilmu pengetahuan secara cepat ternyata mengaktifkan sebuah proses pembelajaran jarak jauh. Interaksi antar para pecinta teknologi informasi yang ingin bertanya dan mengembangkan ilmunya lebih lanjut ternyata menjadi sebuah kebutuhkan yang sangat mendesak. Memang sangat di sayangkan bahwa teknik Internet maupun berbagai ilmu yang ada di Internet ini tidak masuk ke kurikulum formal di sekolah maupun perguruan tinggi, memang bisa di maklumi karena DIKNAS memang sangat ketinggalan jaman khususnya untuk teknologi tinggi. Akhirnya proses belajar jarak jauh lebih banyak bertumpu pada mailing list atau forum diskusi melalui e-mail di Internet yang terpusat di http://groups.yahoo.com/. Pada saat ini, terdapat ribuan mailing list Indonesia di yahoogroups.com dan menjadi tumpuan proses interaksi komunitas cyber Indonesia, termasuk proses belajar mengajar informal melalui Internet.
Kami tidak mengenal ijazah, sertifikat & akreditasi dalam proses pemandaian komunitas di Internet. Pengakuan datang secara langsung dari komunitas Internet, melihat kepiawaian dalam berbagai diskusi / hasil karya seseorang. Berbagai tawaran pekerjaan dan kerjasama datang dengan sendirinya kepada mereka yang diakui keahliannya, bukan sekedar NATO & banyak bicara saja. Pola ini akhirnya memungkinkan seseorang untuk bekerja tanpa kantor di Internet.
Ukuran paling sederhana untuk melihat kepiawaian seseorang dari jumlah publikasi / buku yang di tulis. Jangan kaget kalau anda ke toko buku, akan melihat banyak sekali buku teknologi informasi yang di tulis banyak penulis muda dari berbagai kota. Buku tersebut bukan terjemahan, kebanyakan betul-betul karya tulis anak-anak muda ini. Saya berani bertaruh banyak Professor kalah keahliannya maupun karya tulis-nya jika di tandingkan dengan anak-anak muda ini. Saya mengenal beberapa orang yang usianya kurang dari 30 tahun tapi telah menulis hampir 10 judul buku. Kami umumnya berkumpul di mailing list penulis-ti@yahoogroups.com.
Langganan:
Postingan (Atom)


